Ketika Disertasi Terasa Berat: Tafsir “Wasta‘īnū biṣ-Ṣabri waṣ-Ṣalāh” dalam Proses Penulisan Disertasi

Bagi banyak mahasiswa doktoral, disertasi sering kali menjadi fase paling menantang dalam perjalanan akademik. Tidak sedikit mahasiswa yang telah menempuh perkuliahan dengan baik, lulus ujian komprehensif, bahkan memiliki proposal yang solid, namun tersendat pada tahap penulisan dan penyelesaian disertasi.

Beragam problem muncul:
mulai dari kesulitan manajemen waktu, kelelahan mental, kebuntuan ide, tekanan revisi, hingga menurunnya motivasi. Pada titik tertentu, disertasi bukan lagi sekadar tugas akademik, tetapi berubah menjadi beban psikologis dan spiritual. Di sinilah banyak mahasiswa bertanya: mengapa disertasi terasa begitu berat dan tak kunjung selesai?

Jauh sebelum problem akademik modern muncul: sabar dalam proses dan shalat sebagai penopang jiwa. Inilah jalan agar perjuangan intelektual tidak kehilangan arah, dan keberhasilan akademik menjadi bagian dari perjalanan spiritual yang bermakna. Islam memberikan panduan yang sangat relevan terhadap situasi ini melalui firman Allah Swt. dalam QS. Al-Baqarah ayat 45:

وَاسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ
“Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu.”

Ayat ini bukan hanya pesan moral, tetapi juga kerangka penyelesaian masalah—termasuk dalam konteks akademik dan penulisan disertasi.

Sabar: Keteguhan Menghadapi Proses Panjang Disertasi

Dalam tafsir para ulama, ṣabr tidak dimaknai sebagai sikap pasif, melainkan keteguhan jiwa dalam menjalani proses yang berat dan berulang. Penulisan disertasi pada hakikatnya adalah proses panjang yang menuntut konsistensi, daya tahan intelektual, dan kedewasaan akademik. Kegagalan menyelesaikan disertasi sering kali bukan karena kurangnya kecerdasan, tetapi karena ketidaksiapan menghadapi proses:

  • Tidak sabar menghadapi revisi promotor
  • Tidak tahan dengan proses penelitian yang lambat
  • Mudah lelah ketika hasil tidak segera tampak

Ayat ini mengajarkan bahwa sabar adalah modal utama keberhasilan ilmiah, karena kualitas disertasi justru lahir dari proses panjang yang dijalani dengan ketekunan.

Shalat: Menjaga Keseimbangan Batin dan Kejernihan Akademik

Sementara itu, shalat berfungsi sebagai penopang spiritual dalam tekanan akademik. Dalam konteks disertasi, shalat:

  • Menenangkan hati ketika menghadapi kebuntuan menulis
  • Menjaga niat agar disertasi tetap bernilai ibadah
  • Menguatkan mental saat menghadapi kritik dan evaluasi

Shalat membantu mahasiswa keluar dari kelelahan batin (academic burnout) dan mengembalikan fokus bahwa perjuangan ilmiah adalah bagian dari pengabdian kepada Allah dan masyarakat.

Sinergi Sabar dan Shalat dalam Penyelesaian Disertasi

Menariknya, ayat ini tidak memisahkan antara usaha dan doa. Kata “wasta‘īnū” (mintalah pertolongan) menunjukkan bahwa manusia diperintahkan berikhtiar secara maksimal sekaligus bersandar kepada Allah.

Dalam penulisan disertasi, sinergi ini tampak dalam:

  • Disiplin menulis dan meneliti (sabar)
  • Konsistensi spiritual dan penguatan niat (shalat)

Mahasiswa yang hanya bekerja keras tanpa penguatan spiritual rentan kelelahan, sedangkan yang hanya berdoa tanpa kesabaran akademik akan kehilangan arah. Ayat ini menegaskan bahwa kesuksesan disertasi lahir dari keseimbangan antara ketekunan ilmiah dan keteguhan spiritual.

Menjadikan Ayat sebagai Etos Penyelesaian Disertasi

QS. Al-Baqarah ayat 45 dapat dijadikan etos akademik-spiritual bagi mahasiswa doktoral:

  • Sabar dalam proses, bukan tergesa pada hasil
  • Shalat sebagai ruang refleksi dan penguatan diri
  • Disertasi sebagai amanah keilmuan, bukan sekadar syarat kelulusan

Dengan menjadikan sabar dan shalat sebagai penolong, mahasiswa tidak hanya menyelesaikan disertasi secara administratif, tetapi juga menyelesaikannya dengan kedalaman makna, integritas ilmiah, dan ketenangan batin.