Forum Komunikasi Mahasiswa Doktor PAI Gelar Diskusi Bedah Disertasi Fokus Research Gap dan Novelty
Kegiatan Diskusi Bedah Disertasi
Forum Komunikasi Mahasiswa Program Studi Doktor Pendidikan Agama Islam (PAI) menyelenggarakan diskusi akademik bertajuk Bedah Disertasi: Merumuskan Research Gap dan Novelty pada Senin, 29 Desember 2025. Kegiatan yang berlangsung pukul 13.00–15.00 WIB ini diikuti oleh mahasiswa Program Doktor PAI dan menjadi bagian dari upaya penguatan kapasitas akademik mahasiswa doktoral dalam menyusun disertasi yang bermutu, terarah, dan selesai tepat waktu.
Kegiatan dibuka secara resmi oleh Ketua Program Studi S3 PAI, Prof. Dr. Sukiman, M.Pd. Dalam sambutannya, beliau menyampaikan motivasi kepada seluruh peserta dengan menegaskan bahwa penulisan disertasi tidak semata-mata merupakan ujian kecerdasan intelektual, melainkan juga ujian ketahanan mental dan konsistensi akademik. “Menulis disertasi bukan sekadar uji kecerdasan, tetapi uji ketahanan mental dan konsistensi. Forum ini hadir untuk mengubah beban tersebut menjadi strategi yang terukur,” ungkapnya.
Lebih lanjut, Prof. Sukiman memaparkan hasil pengamatan empiris dan pengalamannya dalam pendampingan akademik di berbagai program doktor. Fakta di lapangan menunjukkan bahwa mahasiswa S3 yang mampu menyelesaikan studi secara tepat waktu, bahkan lebih cepat dari masa studi ideal, umumnya memiliki karakter dan kompetensi kunci. Faktor utama yang menonjol adalah kemampuan manajemen waktu yang baik, sehingga mahasiswa mampu menyeimbangkan peran akademik, profesional, dan personal secara proporsional serta menjaga konsistensi dalam proses riset dan penulisan disertasi.
Selain itu, motivasi intrinsik, semangat akademik, dan orientasi tujuan yang jelas menjadi energi utama yang menjaga keberlanjutan ikhtiar ilmiah, terutama saat mahasiswa menghadapi kompleksitas metodologis, revisi berulang, dan tuntutan publikasi ilmiah. Ketekunan dan daya juang yang tinggi juga menjadi penopang penting, tercermin dari sikap disiplin, keterbukaan terhadap masukan promotor, serta kemampuan menjaga ritme kerja akademik dalam jangka panjang.
Dari sisi akademik-teknis, Prof. Sukiman menekankan bahwa kompetensi dan keterampilan meneliti serta menulis ilmiah menjadi faktor signifikan dalam percepatan studi doktoral. Penguasaan metodologi penelitian, teknik pengumpulan dan analisis data, pemanfaatan perangkat pendukung riset, serta kemampuan menyusun argumentasi ilmiah secara sistematis dan koheren terbukti mempercepat proses penyusunan disertasi sekaligus publikasi ilmiah. Ia juga menegaskan paradigma penting bagi mahasiswa doktoral, yakni “selesai lebih baik daripada sempurna”, seraya mengingatkan bahwa perfeksionisme sering kali justru menjadi penghambat terbesar penyelesaian disertasi.
Diskusi dipandu oleh moderator Hukma Fikria, M.Pd., dan menghadirkan dua narasumber utama, yaitu Dr. Paed. Asih W. Wisudawati dan Prof. Dr. Zainal Arifin, M.S.I.
Dr. Asih W. Wisudawati memaparkan materi tentang Academic Writing, Research Gap, dan Systematic Literature Review (SLR). Dalam paparannya, ia menegaskan bahwa penulisan ilmiah pada level doktoral tidak cukup bersifat deskriptif, melainkan harus mampu menunjukkan kebaruan (novelty) yang jelas dan terukur. Novelty tersebut hanya dapat dicapai apabila peneliti memahami peta mutakhir keilmuan (state of the art) melalui telaah literatur yang sistematis dan mendalam.
Menurut Dr. Asih, research gap merupakan inti dari disertasi doktoral karena menunjukkan posisi penelitian di antara riset-riset sebelumnya. Research gap dapat muncul dalam bentuk keterbatasan jumlah penelitian, kelemahan konseptual, persoalan metodologis, maupun konteks penelitian yang belum terjawab oleh studi terdahulu. Perumusan research gap yang kuat menjadi kunci untuk memenuhi tuntutan penguji disertasi dan reviewer jurnal ilmiah.
Ia juga menekankan pentingnya SLR sebagai pendekatan metodologis yang ilmiah, transparan, dan dapat direplikasi dalam menemukan research gap. Melalui SLR, mahasiswa doktoral dapat membedakan secara tegas antara pengetahuan yang sudah mapan dan ruang kosong keilmuan yang masih terbuka untuk diteliti. Selain itu, Dr. Asih mengingatkan pentingnya pemilihan isu riset yang relevan dan mutakhir, kejelasan fokus judul, penggunaan referensi dari jurnal bereputasi, serta penyusunan roadmap penelitian berkelanjutan. Disertasi, menurutnya, harus diposisikan sebagai fondasi pengembangan karier akademik jangka panjang, bukan sekadar syarat kelulusan.
Sementara itu, Prof. Dr. Zainal Arifin, M.S.I. menitikberatkan paparannya pada pentingnya produktivitas publikasi ilmiah dan keselarasan disertasi dengan visi keilmuan Program Studi S3 PAI. Ia menjelaskan bahwa produktivitas karya ilmiah mahasiswa doktoral merupakan indikator penting keunggulan program studi, yang tidak hanya diukur dari kuantitas publikasi, tetapi juga kualitas jurnal, relevansi bidang keilmuan, dan kontribusi riset terhadap pengembangan ilmu Pendidikan Agama Islam (PAI).
Mahasiswa doktoral didorong untuk menghasilkan publikasi pada jurnal nasional terakreditasi minimal Sinta 2 dan/atau jurnal internasional bereputasi terindeks Scopus atau Web of Science, dengan peran sebagai penulis pertama. Prof. Zainal juga menyampaikan target kinerja program studi terkait peningkatan persentase mahasiswa dengan publikasi bereputasi, yakni minimal 15 persen dalam tiga tahun dan meningkat menjadi 25 persen dalam lima tahun, sebagai bagian dari pembangunan budaya riset dan publikasi yang berkelanjutan.
Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa disertasi mahasiswa harus sejak awal dirancang sebagai sumber utama publikasi ilmiah. Oleh karena itu, perumusan topik, identifikasi research gap, dan penegasan novelty perlu dilakukan secara strategis agar disertasi memiliki dampak akademik yang luas. Prof. Zainal juga menekankan bahwa disertasi wajib merefleksikan visi keilmuan Program Studi Doktor PAI FITK UIN Sunan Kalijaga yang berorientasi pada pengembangan ilmu PAI berbasis integrasi-interkoneksi, bersifat inklusif, transformatif, dan relevan dengan tantangan pendidikan serta peradaban kontemporer.
Diskusi berlangsung interaktif dengan sesi tanya jawab yang membahas strategi praktis menemukan research gap, membangun novelty yang kuat, memanfaatkan basis data ilmiah internasional, serta mengelola relasi akademik dengan promotor secara proaktif dan strategis. Kegiatan ditutup dengan ajakan untuk saling mendukung antarmahasiswa doktoral agar proses studi dapat diselesaikan secara efektif, efisien, dan bermakna.
Melalui forum ini, mahasiswa Program Doktor PAI diharapkan semakin memiliki kejelasan arah riset, ketajaman analisis akademik, serta kesiapan mental dan metodologis dalam menyelesaikan disertasi dan memberikan kontribusi nyata bagi pengembangan keilmuan dan masyarakat luas.