Prof. Dr. Sutrisno, M.Ag. Paparkan Implementasi Deep Learning dalam Pembelajaran Doktor PAI

JAKARTA — Guru Besar Prodi PAI Program Doktor FITK UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Prof. Dr. Sutrisno, M.Ag., menjadi salah satu narasumber dalam Webinar Nasional bertema “Model Deep Learning: Konsep dan Implementasinya di PTKI Menuju Indonesia Emas 2045” yang diselenggarakan oleh Program Doktor Pendidikan Agama Islam (PAI), FITK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Kamis (22/10/2026). Kegiatan yang dilaksanakan secara daring melalui Zoom Meeting ini menjadi forum dialog ilmiah dan pertukaran gagasan mengenai pengembangan pembelajaran di Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI) dalam menghadapi tantangan pendidikan masa depan.

Webinar nasional tersebut menghadirkan sejumlah narasumber dari kalangan akademisi dan praktisi pendidikan, yakni Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia, Prof. Dr. H. Abdul Mu'ti, M.Ed., sebagai keynote speaker; Ir. Harris Iskandar, Ph.D., Widyaprada Ahli Utama Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan; Prof. Bambang Suryadi, Ph.D., Guru Besar UIN Jakarta; Prof. Dr. Sutrisno, M.Ag., Guru Besar UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta; serta Ulfih Qori Khoirunnisa, M.Pd., mahasiswa Doktor PAI UIN Jakarta. Kegiatan dipandu oleh Aini Nadhokhotani Herpi, M.Si., dosen UIN Jakarta.

Dalam paparannya, Prof. Sutrisno menegaskan bahwa pembahasan deep learning atau pembelajaran mendalam tidak semata-mata berkaitan dengan pemilihan metode dan strategi pembelajaran, tetapi juga menyangkut pembentukan manusia yang berilmu, beradab, dan mampu memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat. Secara khusus, ia menyoroti pentingnya implementasi pembelajaran mendalam dalam pendidikan doktor PAI untuk menghasilkan lulusan yang memiliki integritas akademik, kedalaman pemahaman keislaman, kemampuan riset, dan daya saing global.

Menurut Prof. Sutrisno, salah satu tantangan pembelajaran PAI adalah kecenderungan proses belajar yang berhenti pada kemampuan membaca Al-Qur'an dengan baik (tahsin) dan menghafal (tahfidz), tetapi belum sepenuhnya mengantarkan peserta didik pada proses tadabur. Padahal, pembelajaran yang bermakna perlu mendorong mahasiswa untuk memahami, mengajukan pertanyaan, menalar, mengaplikasikan pengetahuan, melakukan refleksi, dan menghasilkan karya yang berdampak.

“Pembelajaran tidak cukup berhenti pada tahsin dan tahfidz, tetapi harus sampai pada tadabur,” demikian pokok gagasan yang ditekankan dalam materi paparannya.

Ia menjelaskan bahwa pembelajaran mendalam perlu diarahkan pada pergeseran paradigma dari sekadar penguasaan informasi menuju pemahaman yang mendalam, penerapan pengetahuan secara bernalar, dan pembentukan makna. Dalam konteks pendidikan Islam, proses tersebut perlu berakar pada nilai-nilai adab serta keterbukaan terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan inovasi teknologi.

Integrasi Adab, Ilmu, dan Daya Saing Global

Lebih lanjut, Prof. Sutrisno mengemukakan bahwa pendidikan berperadaban perlu dibangun melalui tiga kualitas yang tumbuh secara bersamaan, yaitu beradab, berilmu, dan berdaya saing global.

Dimensi beradab diwujudkan melalui nilai kejujuran (sidik) dan amanah, termasuk dalam menjaga integritas akademik. Dimensi berilmu dikembangkan melalui proses tadabur yang mendorong pemahaman, penelitian, penciptaan, dan refleksi. Sementara itu, daya saing global ditumbuhkan melalui kemampuan beradaptasi, berkomunikasi, berkolaborasi, berproduksi, dan berinovasi.

Dalam konteks perkembangan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), Prof. Sutrisno menekankan pentingnya penggunaan teknologi secara jujur dan bertanggung jawab. AI dapat dimanfaatkan untuk memperluas eksplorasi pengetahuan dan mendukung proses penelitian, tetapi tidak seharusnya menggantikan proses berpikir kritis, tanggung jawab ilmiah, dan kejujuran mahasiswa.

Menurutnya, kecanggihan teknologi harus tetap dibimbing oleh nilai-nilai adab. Penggunaan AI dalam kegiatan akademik perlu memperhatikan tanggung jawab terhadap data dan karya, pencantuman sumber secara transparan, serta orientasi pada kemaslahatan umat.

Transformasi Peran Dosen dan Kurikulum

Dalam implementasinya di perguruan tinggi, Prof. Sutrisno menyoroti pentingnya transformasi peran dosen. Di era AI, dosen tidak cukup hanya berperan sebagai penyampai materi, tetapi juga perlu menjadi pendidik, pembimbing, kurator pengetahuan, mentor karakter, dan perancang pengalaman belajar.

Dosen perlu memahami peluang, keterbatasan, dan potensi bias AI; memilih strategi pembelajaran sesuai tujuan dan kebutuhan mahasiswa; menanamkan integritas akademik; serta merancang tugas yang menuntut penalaran, kolaborasi, dan refleksi.

Sejalan dengan hal tersebut, kurikulum perlu mengintegrasikan substansi ilmu, konteks kehidupan nyata, dan kompetensi masa depan. Prinsip less but deeper atau materi yang lebih sedikit tetapi dipelajari secara lebih mendalam menjadi salah satu pendekatan yang ditawarkan. Pembelajaran juga perlu memberi ruang bagi proyek lintas disiplin, pemecahan masalah nyata, verifikasi informasi, penciptaan karya, dan refleksi kritis.

Prof. Sutrisno juga mengingatkan bahwa project-based learning (PBL) tidak secara otomatis dapat disebut sebagai pembelajaran mendalam. PBL baru menjadi bagian dari pembelajaran mendalam apabila prosesnya menghasilkan pemahaman, penerapan pengetahuan secara bernalar, refleksi, dan pertumbuhan mahasiswa secara utuh, bukan sekadar menghasilkan produk atau menyelesaikan proyek.

Pembelajaran Mendalam Berbasis Riset dan Karya Nyata

Sebagai ilustrasi implementasi, Prof. Sutrisno memaparkan pengalaman pembelajaran yang mengintegrasikan perkuliahan, penelitian lapangan, penulisan artikel ilmiah, dan penyusunan buku teks. Dalam salah satu contoh, mahasiswa terlibat dalam persiapan penulisan artikel jurnal, pelaksanaan penelitian di Majelis Taklim Kalam Purwomartani, Yogyakarta, diskusi kelas, perbaikan naskah, hingga proses pengiriman artikel dan revisi berdasarkan masukan penelaah.

Pengalaman tersebut menghasilkan artikel berjudul “Urban Qur’anic Learning and Religious Meaning in Majelis Taklim Kalam” yang terbit pada 2026. Selain itu, proses pembelajaran juga diarahkan untuk menghasilkan buku berjudul Rekonstruksi Teori dan Model Pendidikan Islam sebagai Jalan Kebangkitan Umat: Implementasi dan Diskursus Pengembangan Teori dan Model Pendidikan Agama Islam.

Contoh lainnya ditunjukkan melalui penelitian disertasi mengenai model pendidikan Al-Qur'an di Majelis Taklim Kalam Purwomartani, Kalasan, Sleman, Yogyakarta. Praktik tersebut memperlihatkan bagaimana pembelajaran doktor dapat menghubungkan pengembangan teori, penelitian lapangan, diskusi akademik, publikasi ilmiah, dan pengembangan praktik pendidikan di masyarakat.

Melalui pendekatan tersebut, mahasiswa tidak hanya mempelajari teori dan metodologi penelitian, tetapi juga mengalami secara langsung proses menghasilkan pengetahuan, menguji gagasan, menerima masukan, melakukan perbaikan, dan menyebarluaskan hasil penelitian. Pembelajaran menjadi lebih bermakna karena terhubung dengan persoalan nyata dan menghasilkan karya akademik yang dapat dipertanggungjawabkan.

PTKI sebagai Laboratorium Pendidikan Beradab

Pada bagian akhir paparannya, Prof. Sutrisno menekankan bahwa keberhasilan implementasi pembelajaran mendalam tidak dapat dibebankan hanya kepada dosen atau perguruan tinggi. Diperlukan ekosistem belajar yang melibatkan ruang kelas, kebijakan dan infrastruktur kampus, masyarakat, pesantren, majelis taklim, serta berbagai mitra pendidikan.

PTKI memiliki modal penting berupa tradisi keilmuan Islam, nilai-nilai adab, jejaring kelembagaan, dan kedekatan dengan kehidupan masyarakat. Modal tersebut dapat dikembangkan menjadi ekosistem inovasi pembelajaran yang memadukan integritas akademik, pemanfaatan teknologi, penelitian, dan kepedulian terhadap kemanusiaan.

Dalam konteks Program Doktor PAI, pendekatan ini relevan untuk memperkuat pembelajaran yang tidak hanya berorientasi pada penguasaan teori, tetapi juga pada kemampuan mengembangkan ilmu PAI melalui penelitian yang kreatif, orisinal, teruji, dan berdampak.

Implementasi deep learning dengan demikian menjadi bagian dari upaya membangun pendidikan Islam yang unggul, adaptif, inklusif, dan transformatif. Orientasi akhirnya bukan sekadar melahirkan lulusan yang menguasai ilmu dan teknologi, melainkan akademisi, peneliti, dan pemimpin pendidikan yang berintegritas, beradab, serta mampu memberikan kontribusi bagi kemajuan peradaban.

Gagasan tersebut menegaskan bahwa perjalanan menuju Indonesia Emas 2045 perlu ditopang oleh pendidikan yang mengintegrasikan kedalaman ilmu, kemajuan teknologi, dan keluhuran adab. Bagi PTKI, pembelajaran mendalam menjadi salah satu jalan strategis untuk mewujudkan generasi yang tidak hanya cerdas dan kompetitif, tetapi juga memiliki tanggung jawab moral dan sosial dalam mengembangkan ilmu pengetahuan serta memajukan kehidupan masyarakat.

Tentang Kegiatan

Webinar Nasional “Model Deep Learning: Konsep dan Implementasinya di PTKI Menuju Indonesia Emas 2045” diselenggarakan oleh Program Doktor Pendidikan Agama Islam, FITK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, sebagai ruang akademik untuk memperluas wawasan dan mendorong pertukaran gagasan mengenai transformasi pembelajaran di lingkungan PTKI.

Melalui kegiatan ini, diharapkan para akademisi, dosen, guru, mahasiswa, peneliti, dan praktisi pendidikan semakin terdorong untuk mengembangkan model pembelajaran yang mendalam, berintegritas, berbasis riset, serta relevan dengan tantangan pendidikan Islam di era kecerdasan buatan.