Konstruksi Model Pendidikan Al-Qur’an di Majelis Taklim, Arifudin Raih Gelar Doktor PAI
Konstruksi Model Pendidikan Al-Qur’an di Majelis Taklim, Arifudin Raih Gelar Doktor PAI
Yogyakarta, 29 September 2026— Program Studi Doktor Pendidikan Agama Islam (PAI), Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK), UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta kembali melahirkan doktor baru.Arifudin, M.Pd., NIM 23304012006, berhasil meraih gelarDoktor Pendidikan Agama Islamsetelah mempertahankan disertasinya dalamUjian Terbuka Promosi Doktoryang dilaksanakan pada Selasa (29/9/2026).
Arifudin mempertahankan disertasi berjudul“Model Pendidikan Al-Qur’an di Majelis Taklim Kalam Purwomartani, Kalasan, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta.”Ujian terbuka berlangsung pukul 09.00–11.00 WIB di Aula Lantai 3 Gedung PPG FITK UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Sidang dipimpinProf. Dr. Sukiman, S.Ag., M.Pd.selaku Ketua Sidang danProf. Dr. Zainal Arifin, M.S.I.sebagai Sekretaris Sidang. Bertindak sebagai promotor adalahProf. Dr. Sutrisno, M.Ag.danProf. Dr. Muhammad, M.Ag.Adapun tim penguji terdiri atasProf. Dr. Mahmud Arif, M.Ag., Dr. Jaubar Hatta, M.Ag., Dr. Lailatu Rahmah, S.Pd.I., M.S.I.,danDr. Hj. R Umi Baroroh, S.Ag., M.Ag.
Mengembangkan Model Pendidikan Al-Qur’an di Majelis Taklim
Penelitian Arifudin berangkat dari realitas pendidikan Al-Qur’an pada lembaga pendidikan Islam nonformal yang masih banyak berorientasi pada kemampuan membaca dan menghafal Al-Qur’an. Sementara itu, aspek pemahaman, penghayatan, dan pengamalan nilai-nilai Al-Qur’an belum sepenuhnya dikembangkan secara optimal. Kondisi tersebut mendorong perlunya model pendidikan Al-Qur’an yang tidak hanya membangun kemampuan membaca dan menghafal, tetapi juga mengembangkan pemahaman Al-Qur’an secara komprehensif serta menghubungkannya dengan realitas kehidupan jamaah.
Penelitian dilaksanakan diMajelis Taklim Kalam Purwomartani, Kalasan, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, yang mengembangkan pendidikan Al-Qur’an melalui tiga pendekatan, yaituTartīb Muṣḥafī, Tartīb Nuzūlī, dan Maudū‘ī. Ketiganya digunakan untuk membantu jamaah memahami kandungan Al-Qur’an secara sistematis dan kontekstual. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pelaksanaan pendidikan Al-Qur’an di Majelis Taklim Kalam, mengonstruksi model pendidikan Al-Qur’an yang dikembangkan, serta menganalisis kontribusi pendekatan Tartīb Muṣḥafī, Tartīb Nuzūlī, dan Maudū‘ī dalam membentuk pemahaman Al-Qur’an jamaah.
Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan pengumpulan data melalui observasi partisipatif, wawancara mendalam dengan pengampu, pengelola, jamaah, dan tokoh masyarakat, serta dokumentasi kegiatan pendidikan Al-Qur’an. Analisis data menggunakan model interaktif Miles, Huberman, dan Saldaña yang meliputi kondensasi data, penyajian data, serta penarikan dan verifikasi kesimpulan secara berkelanjutan. Keabsahan data dilakukan melalui triangulasi sumber, teknik, dan teori.
Menghasilkan Model Pendidikan Al-Qur’an yang Sistematis dan Kontekstual
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendidikan Al-Qur’an di Majelis Taklim Kalam dilaksanakan secara sistematis melalui kerangka pendidikan yang mengintegrasikanteks dan konteks Al-Qur’an. Proses pembelajaran juga menempatkan jamaah sebagai peserta aktif melalui kurikulum berbasis pemahaman Al-Qur’an, evaluasi formatif, tahapan pembelajaran yang terstruktur, serta materi berupa kajian surah, kajian ayat, dan kajian tematik.
Penelitian ini menghasilkanModel Pendidikan Al-Qur’anyang mengintegrasikan pendekatan Tartīb Muṣḥafī, Tartīb Nuzūlī, dan Maudū‘ī dengan strategi dialog, diskusi, tanya jawab, dan refleksi. Model tersebut dibangun berdasarkan enam prinsip utama, yaituRabbāniyah, Tadarruj, Kontekstual, Reflektif, Integratif, dan Aplikatif.
Model yang dikonstruksi memiliki karakteristiksistematis, kontekstual, partisipatif, dan berbasis pemahaman Al-Qur’an. Dalam model tersebut, pendidik tidak hanya berperan sebagai penyampai materi, tetapi juga sebagai fasilitator pemahaman, mediator antara teks dan konteks, pembimbing internalisasi nilai, serta pendamping dalam mengaktualisasikan nilai-nilai Al-Qur’an dalam kehidupan.
Ketiga pendekatan tersebut berkontribusi terhadap penguatan akidah, peningkatan kualitas ibadah, pembentukan akhlak, perubahan perspektif jamaah terhadap Al-Qur’an, serta implementasi nilai-nilai Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari. Pendidikan Al-Qur’an di Majelis Taklim Kalam juga berkontribusi terhadap penguatan kehidupan sosial dan transformasi religius jamaah.
Pendidikan Al-Qur’an Berorientasi pada Transformasi Jamaah
Konstruksi model yang dihasilkan memberikan implikasi konseptual bagi pengembangan pendidikan Al-Qur’an pada lembaga pendidikan Islam nonformal. Model tersebut menempatkan pendidikan Al-Qur’an sebagai proses yangsistematis, kontekstual, dan partisipatif, dengan orientasi pada terbentuknya pemahaman Al-Qur’an yang dapat diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari.
Dengan pendekatan tersebut, pendidikan Al-Qur’an tidak berhenti pada penguasaan pengetahuan, tetapi diarahkan pada penguatan akidah, peningkatan kualitas ibadah, pembentukan akhlak, dan transformasi religius jamaah. Model ini diharapkan dapat menjadi salah satu rujukan konseptual dalam pengembangan pendidikan Al-Qur’an pada berbagai lembaga pendidikan Islam nonformal.
Keberhasilan Arifudin mempertahankan disertasinya sekaligus menambah daftar doktor yang dilahirkan Program Studi Doktor PAI FITK UIN Sunan Kalijaga.Arifudin tercatat sebagai Doktor Pendidikan Agama Islam ke-52yang dihasilkan Program Studi Doktor PAI FITK UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.
Arifudin menyelesaikan studi doktoralnya tercepat dengan waktu2 tahun 6 bulan 29 hari dengan predikat cumlaude.Disertasinya memberikan kontribusi pada pengembangan pendidikan Al-Qur’an melalui konstruksi model yang mempertemukanpemahaman teks Al-Qur’an, konteks kehidupan, partisipasi jamaah, dan aktualisasi nilai-nilai Al-Qur’andalam kehidupan sehari-hari.
Kata Kunci:Model Pendidikan Al-Qur’an, Majelis Taklim Kalam, Tartīb Muṣḥafī, Tartīb Nuzūlī, Maudū‘ī.