Hermi Cahyawati Tawarkan Konstruksi Pembinaan Akhlak Integratif-Transformatif bagi Siswa SMK
Hermi Cahyawati Tawarkan Konstruksi Pembinaan Akhlak Integratif-Transformatif bagi Siswa SMK
Yogyakarta, 24 Agustus 2026– Program Studi Doktor Pendidikan Agama Islam (PAI), Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK), UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta kembali menorehkan capaian akademik dengan melahirkan doktor baru.Hermi Cahyawati, NIM 21304011004, berhasil meraih gelarDoktor Pendidikan Agama Islam ke-49setelah mempertahankan disertasinya berjudul“Konstruksi Pembinaan Akhlak Siswa SMK pada Era Digital di Kabupaten Bantul Daerah Istimewa Yogyakarta.”
Ujian Terbuka Promosi Doktor dilaksanakan padaSenin, 24 Agustus 2026, pukul 13.00–15.00 WIB, bertempat di Aula Pertemuan Lantai 3 Gedung PPG FITK UIN Sunan Kalijaga, Sambilegi, Maguwoharjo, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Sidang dipimpin olehProf. Dr. Sigit Purnama, M.Pd.selaku Ketua Sidang danDr. Winarti, M.Pd.Si.selaku Sekretaris Sidang. Hermi Cahyawati dibimbing olehProf. Dr. Maragustam, M.A.sebagai Promotor 1 danDr. Muqowim, M.Ag.sebagai Promotor 2. Adapun tim penguji terdiri atasProf. Dr. Maksudin, M.Ag., Dr. Mulin Nu’man, M.Pd., Jamil Suprihatiningrum, M.Pd.Si., Ph.D.,sertaDr. Sutarman, M.Hum.selaku penguji eksternal dari Universitas Ahmad Dahlan.
Menjawab Tantangan Pembinaan Akhlak di Era Digital
Disertasi Hermi Cahyawati berangkat dari realitas bahwa transformasi digital telah memberikan peluang besar bagi pengembangan pendidikan di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Pemanfaatan teknologi dapat memperluas akses informasi, meningkatkan efektivitas pembelajaran, serta mempersiapkan siswa menghadapi tuntutan dunia kerja. Namun, perkembangan teknologi digital juga menghadirkan tantangan baru dalam pembinaan akhlak siswa. Ruang digital tidak hanya menjadi sarana memperoleh informasi dan berkomunikasi, tetapi juga menjadi ruang tempat siswa berinteraksi, mengekspresikan diri, dan mengambil keputusan yang memiliki konsekuensi moral. Dalam konteks tersebut, penelitian ini diarahkan untuk mengeksplorasi urgensi pembinaan akhlak siswa, mengkaji implementasi pembinaan akhlak, menganalisis peran guru, orang tua, dan masyarakat, serta mengonstruksi pembinaan akhlak siswa SMK pada era digital di Kabupaten Bantul.
Penelitian Kualitatif di Tiga SMK Negeri
Penelitian menggunakan pendekatankualitatifyang dilaksanakan diSMKN 1 Bantul, SMKN 1 Sewon, dan SMKN 1 Pandak. Informan penelitian meliputi kepala sekolah, guru, siswa, orang tua, dan masyarakat yang dipilih melalui teknikpurposive sampling.Data penelitian dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi partisipan, dan dokumentasi. Analisis data dilakukan melalui tahapan pengumpulan data, kondensasi data, penyajian data, serta penarikan kesimpulan dan verifikasi. Keabsahan data dijaga melalui triangulasi sumber, teknik, dan waktu.
Akhlak Digital Dibangun melalui Sinergi Sekolah, Keluarga, dan Masyarakat
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembinaan akhlak siswa SMK pada era digital memiliki urgensi strategis untuk membangun keseimbangan antarakeunggulan akademik dan kesadaran spiritual, mempersiapkan integritas siswa menghadapi dunia kerja, membangun interaksi sosial yang positif, serta memperkuat kemampuan pengendalian diri dalam kehidupan digital. Pembinaan akhlak diimplementasikan melalui integrasi nilai-nilai akhlak dalam pemanfaatan teknologi digital, pembentukan kultur digital sekolah, bimbingan keagamaan, serta sinergi antara guru, orang tua, dan masyarakat.
Penelitian juga menemukan bahwa pembinaan akhlak tidak dapat dibebankan hanya kepada sekolah. Proses tersebut berlangsung melalui keterhubungankeluarga, sekolah, dan masyarakat. Orang tua berperan sebagai pendamping dan pengarah di lingkungan keluarga, guru sebagai pembimbing sekaligus teladan di sekolah, sedangkan masyarakat berperan sebagai lingkungan pengawasan dan penguatan norma sosial. Dari berbagai temuan tersebut, penelitian menghasilkankonstruksi pembinaan akhlak siswa SMK pada era digital berbasis nilai-nilai Islammelalui integrasi budaya sekolah, keteladanan, pembiasaan, pengawasan, dan pemanfaatan teknologi secara adaptif serta kontekstual. Konstruksi tersebut diarahkan untuk membentuk siswa yangreligius, berkarakter, bertanggung jawab, kritis, dan beretika, baik dalam kehidupan nyata maupun dalam ruang virtual.
Akhlak Digital Harus Menjadi Budaya, Bukan Sekadar Pengawasan
Prof. Dr. Maragustam, M.A., selaku Promotor menilai bahwa penelitian ini memiliki relevansi kuat dengan perubahan lingkungan pendidikan yang semakin terdigitalisasi. Menurutnya, pembinaan akhlak tidak cukup dilakukan melalui penyampaian norma atau pemberian nasihat, tetapi perlu diwujudkan dalambudaya pendidikan yang memungkinkan nilai-nilai akhlak dipraktikkan secara konsisten.
“Pembinaan akhlak di era digital harus bergerak dari sekadar pengawasan terhadap perilaku siswa menuju proses pembentukan kesadaran dan kebiasaan moral. Teknologi bukan hanya sesuatu yang harus diawasi, tetapi juga harus dimanfaatkan sebagai ruang aktualisasi nilai-nilai akhlak,” demikian perspektif yang ditekankan dalam penelitian ini.
Dr. Sutarman, M.Hum., selaku penguji eksternal dariUniversitas Ahmad DahlanYogyakarta, menyoroti pentingnya konteks lokal dalam konstruksi pembinaan akhlak yang dihasilkan. Temuan penelitian yang berbasis pada pengalaman tiga SMK Negeri di Kabupaten Bantul memberikan gambaran konkret mengenai bagaimana sekolah dapat membangun ekosistem pembinaan akhlak yang responsif terhadap perkembangan teknologi sekaligus tetap berpijak pada nilai-nilai Islam.
Dari Internalisasi Nilai Menuju Akhlak Digital Integratif-Transformatif
Kontribusi utama penelitian Hermi Cahyawati terletak pada pengembangan konsep pembinaan akhlak di era digital. Penelitian ini menawarkan pergeseran paradigma dari pembinaan yang berpusat padainternalisasi nilai pada individumenuju proses pembentukan akhlak digital yangintegratif-transformatif. Konstruksi tersebut mengintegrasikan kesadaran spiritual, pembiasaan moral, keteladanan, kultur sekolah, pengawasan lintas lingkungan, serta pemanfaatan teknologi.
Dalam konstruksi ini,ruang digital tidak lagi dipandang hanya sebagai objek pengawasan, tetapi sebagai ruang aktualisasi sekaligus ruang pengujian akhlak siswa dalam kehidupan sehari-hari. Siswa dituntut tidak hanya memahami nilai-nilai moral, tetapi mampu menerapkannya ketika berkomunikasi, memperoleh informasi, menggunakan media sosial, dan memanfaatkan teknologi untuk kepentingan pendidikan maupun kehidupan sosial.
Memperkuat Tradisi Riset Pendidikan Agama Islam Transformatif
Keberhasilan Hermi Cahyawati meraih gelar Doktor PAI ke-49 menjadi bagian dari kontribusi berkelanjutan Program Studi Doktor PAI FITK UIN Sunan Kalijaga dalam mengembangkan kajian Pendidikan Islam yang responsif terhadap perubahan zaman. Disertasi ini sekaligus memperlihatkan pentingnya pengembanganPendidikan Agama Islamyang mampu menjawab persoalan aktual, termasuk tantangan pembentukan karakter dan akhlak generasi muda di tengah akselerasi transformasi digital. Melalui penelitian tersebut, pembinaan akhlak tidak hanya ditempatkan sebagai proses pewarisan nilai, tetapi sebagaiproses transformatif untuk membentuk pribadi yang religius, berkarakter, kritis, bertanggung jawab, dan beretika dalam kehidupan nyata maupun ruang digital.
Kata kunci:Pembinaan Akhlak Digital, Siswa SMK, Era Digital, Integratif-Transformatif.