Yumidiana Raih Gelar Doktor melalui Kajian Genealogi, Ideologi, dan Kurikulum Pendidikan Agama Islam di Gontor

Yogyakarta, 20 Juli 2026— Program Studi Doktor Pendidikan Agama Islam (PAI), Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK), Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta kembali menorehkan capaian akademik dengan melahirkan doktor baru.Yumidiana Tya Nugraheni, M.Pd., NIM 19304016010, resmi meraih gelarDoktor Pendidikan Agama Islam ke-43setelah berhasil mempertahankan disertasinya yang berjudul“Genealogi Pondok Modern Darussalam Gontor Ponorogo: Analisis Ideologi dan Kurikulum Pendidikan Agama Islam.”

Ujian Terbuka Promosi Doktor dilaksanakan padaSenin, 20 Juli 2026, pukul 09.00–11.00 WIB, bertempat diAula Pertemuan Lantai 3 Gedung PPG FITK UIN Sunan Kalijaga, Sambilegi, Maguwoharjo, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Sidang dipimpin olehProf. Dr. Sigit Purnama, M.Pd.selaku Ketua Sidang danDr. Andi Prastowo, M.Pd.I.sebagai Sekretaris Sidang. Bertindak sebagai promotor adalahProf. Dr. Muhammad, M.Ag.danSibawaihi, M.A., Ph.D.Sementara itu, tim penguji terdiri atasProf. Dr. Sembodo Ardi Widodo, M.Ag., Prof. Dr. Muh. Agung Rokhimawan, M.Pd., Dr. Hafidh 'Aziz, S.Pd.I., M.Pd.I.,danNajib Kailani, S.Fil.I., M.A., Ph.D.

Disertasi Yumidiana berangkat dari persoalan historis dan epistemologis mengenai posisi pesantren dalam perkembangan pendidikan Islam di Indonesia. Pesantren sebagai salah satu lembaga pendidikan Islam tertua di Nusantara mengalami dinamika panjang sejak masa kolonial hingga pascakemerdekaan. Pada saat sistem pendidikan Barat memperoleh legitimasi negara, pesantren sempat berada dalam posisi marginal dan kemudian memperoleh pengakuan formal yang semakin kuat, termasuk melalui Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2019 tentang Pesantren.

Dalam konteks dinamika tersebut,Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG)tampil sebagai salah satu model penting pesantren khalaf yang mengembangkan sistem pendidikan dengan mengintegrasikan ilmu agama dan ilmu umum melalui sistemKulliyatul Mu’allimin Al-Islamiyyah (KMI). PMDG berada pada persimpangan antara tradisi pesantren, pembaruan pemikiran Islam, dan modernitas pendidikan. Kemampuan lembaga tersebut untuk mempertahankan eksistensi sekaligus mengembangkan pengaruhnya secara nasional menjadikan Gontor sebagai salah satu fenomena penting dalam perkembangan pendidikan Islam modern di Indonesia.

Penelitian Yumidiana secara khusus menempatkan PMDG bukan sekadar sebagai lembaga pendidikan, tetapi juga sebagai ruang produksi pengetahuan, ideologi, identitas, dan pengaruh sosial. Kajian genealogis tersebut digunakan untuk menelusuri bagaimana Pendidikan Agama Islam di PMDG terbentuk melalui relasi sejarah, kuasa, ideologi, dan konstruksi sistem pengetahuan.

Penelitian ini menggunakan metodekualitatif dengan pendekatan analisis sejarah. Data penelitian diperoleh melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Data kemudian dianalisis melalui tahapan pengumpulan data, display data, interpretasi, dan penarikan kesimpulan. Untuk memastikan keabsahan data, penelitian menggunakantriangulasi sumber dan triangulasi metode. Secara teoretis, penelitian memposisikan wacana sebagai instrumen produksi pengetahuan yang dapat berfungsi sebagai strategi perlawanan sekaligus dominasi.

Dengan perspektif tersebut, PMDG dipahami sebagai lembaga yang tidak hanya mentransmisikan pengetahuan, tetapi juga secara aktif memproduksi dan mereproduksi wacana pendidikan Islam, identitas kelembagaan, serta nilai-nilai yang membentuk kehidupan santri dan komunitas pendukungnya.

Hasil penelitian menunjukkan tiga temuan utama.Pertama, secara genealogis, PMDG terbentuk melalui interaksi antara tradisi pesantren dan pengalaman intelektual modern para pendirinya.Salah satu figur penting dalam proses tersebut adalahK.H. Imam Zarkasyi, yang memiliki pengalaman pendidikan di Sumatera Thawalib, Normal Islam School, dan Kweekschool Muhammadiyah Padang Panjang. Pengalaman intelektual tersebut berkontribusi terhadap lahirnya sistem pendidikan yang memadukan tradisi pesantren dengan sistem persekolahan modern. Integrasi tersebut tampak melalui penerapan sistem kelas, kurikulum terpadu, penggunaan bahasa asing, disiplin, organisasi santri, dan sistem pendidikan yang berlangsung secara intensif dalam lingkungan pesantren.

Kedua, secara ideologis dan kurikuler, Pendidikan Agama Islam di PMDG merepresentasikan sintesis religius-rasional-pragmatis.Sintesis tersebut, sebagaimana dianalisis melalui kerangka teori pendidikan Jawwad Ridla, diwujudkan dalam integrasi ilmu agama dan ilmu umum sebagai paradigma epistemologis pendidikan. Dalam konstruksi tersebut, pimpinan pondok memiliki posisi strategis sebagai produsen pengetahuan yang membentukdoksamelalui nilai, semboyan, tradisi intelektual, dan praktik pendidikan yang berlangsung secara berkelanjutan.

Ketiga, PMDG mengembangkan strategi reproduksi kultural dan institusional untuk mempertahankan nilai-nilai ideologisnya.Strategi tersebut dilakukan melalui otonomisasi kurikulum, kaderisasi kepemimpinan, internalisasi nilai melalui sistem pendidikan berasrama selama 24 jam, serta penguatan jaringan alumni. Strategi tersebut menjadi salah satu faktor yang memungkinkan PMDG mempertahankan kesinambungan kelembagaan sejak masa kolonial hingga pascakemerdekaan, sekaligus bertransformasi menjadi salah satu pusat penting pendidikan Islam modern di Indonesia.

“Penelitian ini memiliki kontribusi penting dalam kajian Pendidikan Agama Islam karena tidak melihat Gontor hanya dari sisi kelembagaan, tetapi mencoba menelusuri bagaimana sistem pendidikan, ideologi, dan kurikulumnya terbentuk melalui proses sejarah dan dinamika intelektual. Pendekatan genealogis memberikan perspektif yang lebih kritis untuk memahami mengapa sistem pendidikan Gontor dapat bertahan, berkembang, dan memiliki pengaruh yang luas.” Ungkap Prof. Dr. Muhammad M.Ag.

“Disertasi ini menarik karena Gontor dapat dibaca sebagai sebuah laboratorium pendidikan Islam modern yang mempertemukan tradisi keislaman, modernitas, dan pengalaman sejarah Indonesia. Kajian genealogis membantu kita memahami bahwa sistem pendidikan yang berkembang di Gontor bukan sesuatu yang muncul secara tiba-tiba, melainkan merupakan hasil dari proses historis dan pergulatan pemikiran yang panjang.” Komentar Prof. Dr. Sembodo Ardi Widodo, M.Ag.

Disertasi Yumidiana juga memberikan kontribusi bagi pengembangan kajian Pendidikan Agama Islam, khususnya dalam memahami hubungan antaraideologi pendidikan, kepemimpinan pesantren, kurikulum, budaya kelembagaan, dan reproduksi pengetahuan. Keberhasilan Yumidiana mempertahankan disertasinya sekaligus menambah daftar capaian akademikProgram Studi Doktor PAI FITK UIN Sunan Kalijaga Yogyakartadalam menghasilkan kajian-kajian doktoral yang memberikan kontribusi terhadap pengembangan pemikiran dan praktik Pendidikan Agama Islam di Indonesia.

Kata kunci:Genealogi, Ideologi, Pendidikan Agama Islam, Pondok Modern Darussalam Gontor, Kurikulum Pendidikan Islam