Suwardi Raih Gelar Doktor PAI UIN Sunan Kalijaga, Tawarkan Konsep Neuro Wayang untuk Penguatan Pendidikan Akhlak

Yogyakarta, 13 Juli 2026 – Program Studi Doktor Pendidikan Agama Islam (PAI) Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta kembali mencatatkan capaian akademik dengan meluluskan doktor baru.Suwardi, S.Pd.I., M.Pd.I.(NIM 22304012002) resmi meraih gelarDoktor Pendidikan Agama Islam ke-41setelah berhasil mempertahankan disertasinya yang berjudul"Wayang Kulit sebagai Media dan Sumber Pendidikan Akhlak di SMK Negeri 8 Surakarta"dalam Ujian Terbuka Promosi Doktor.

Ujian terbuka diselenggarakan padaSenin, 13 Juli 2026, pukul13.00–15.00 WIB, bertempat di Aula Pertemuan Lantai 3 Gedung PPG FITK UIN Sunan Kalijaga, Sambilegi, Maguwoharjo, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Sidang dipimpin olehProf. Dr. Sukiman, S.Ag., M.Pd.selaku Ketua Sidang, didampingiProf. Dr. Zainal Arifin, M.S.I.sebagai Sekretaris Sidang.

Tim promotor terdiri atasProf. Dr. Istiningsih, M.Pd.sebagai Promotor Utama danDr. Sedya Santosa, S.S., M.Pd.sebagai Ko-promotor. Adapun tim penguji terdiri atasDr. Muh. Aji Nugroho, Lc., M.Pd.I.(Sekretaris Program Studi Doktor PAI UIN Salatiga) sebagai penguji eksternal, sertaProf. Dr. Maksudin, M.Ag., Prof. Dr. Abdul Munip, M.Ag.,danDr. Winarti, M.Pd.Si.sebagai penguji internal.

Dalam disertasinya, Suwardi mengangkat persoalan degradasi akhlak generasi muda yang ditandai dengan krisis identitas serta melemahnya kontrol sosial. Penelitian ini menawarkan pendekatan yang memadukan nilai-nilai budaya lokal dengan pendidikan Islam melalui pemanfaatanwayang kulitsebagai media sekaligus sumber pendidikan akhlak.

Penelitian bertujuan menganalisis nilai-nilai pendidikan akhlak yang terkandung dalam narasi, tokoh, lakon, dan tembang wayang kulit; mengkaji proses internalisasi nilai-nilai tersebut dalam pembelajaran; serta mengetahui kontribusi wayang kulit sebagai media pendidikan akhlak di SMK Negeri 8 Surakarta.

Menggunakan pendekatanmixed methoddengan strategiexploratory sequential, penelitian ini mengombinasikan data kualitatif dan kuantitatif. Data diperoleh melalui observasi, wawancara dengan guru dan praktisi, studi dokumentasi, serta penyebaran angket kepada peserta didik. Validitas data diperkuat melalui teknik triangulasi antara hasil observasi, wawancara, dan dokumentasi.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai-nilai pendidikan akhlak dalam wayang kulit termanifestasi melalui dialog (ginem), tokoh, lakon, dan gending yang memuat nilai keimanan, ketakwaan, kejujuran, kesantunan, kedamaian, tanggung jawab, persatuan, dan semangat Bhinneka Tunggal Ika. Proses internalisasi dilakukan melalui integrasi ajaran agama dalam lakon wayang, pembiasaan kejujuran, kesabaran, kedisiplinan, kerja sama, penghargaan terhadap keberagaman, serta pengembangan kreativitas melalui latihan seni.

Secara empiris, penelitian menemukan bahwa penggunaan wayang kulit sebagai media pendidikan akhlak memberikan kontribusi yang kuat terhadap pembentukan karakter peserta didik. Hal ini ditunjukkan oleh nilaikoefisien korelasi sebesar r = 0,73, yang mengindikasikan hubungan positif antara pemanfaatan media wayang kulit dengan terbentuknya akhlak yang baik pada siswa.

Selain memperkaya kajian pendidikan Islam berbasis budaya lokal, disertasi ini juga menawarkan konsepNeuro Wayang, yaitu pendekatan pendidikan yang mengintegrasikan respons kognitif dan afektif terhadap unsur visual, simbol, narasi, dan suara dalam pertunjukan wayang sehingga mampu mendorong internalisasi nilai menjadi perilaku nyata. Temuan tersebut diharapkan dapat menjadi alternatif pengembangan kurikulum pendidikan akhlak yang kontekstual dan relevan dengan kearifan lokal Indonesia.

Promotor Utama, Prof. Dr. Istiningsih, M.Pd.,memberikan apresiasi atas konsistensi dan kedalaman penelitian yang dilakukan Suwardi. Menurutnya, disertasi ini berhasil menunjukkan bahwa budaya lokal tidak hanya berfungsi sebagai warisan seni, tetapi juga memiliki kekuatan pedagogis yang besar dalam membentuk karakter peserta didik.

"Disertasi ini menghadirkan perspektif baru tentang integrasi pendidikan Islam dengan kearifan lokal. Wayang kulit diposisikan bukan sekadar sebagai seni pertunjukan, melainkan sebagai media pendidikan yang mampu mentransformasikan nilai-nilai akhlak secara kontekstual. Konsep Neuro Wayang yang ditawarkan menjadi kontribusi akademik yang menarik untuk pengembangan teori maupun praktik pendidikan Islam,"ungkap Prof. Istiningsih.

Sementara itu,penguji eksternal, Dr. Muh. Aji Nugroho, Lc., M.Pd.I.,menilai penelitian ini memiliki signifikansi ilmiah sekaligus relevansi sosial yang tinggi.

"Penelitian ini menunjukkan bahwa penguatan pendidikan karakter tidak selalu harus bertumpu pada pendekatan konvensional. Penggunaan media budaya seperti wayang kulit mampu menjadi jembatan antara nilai-nilai Islam dan identitas budaya bangsa. Temuan ini layak dikembangkan sebagai model pendidikan karakter berbasis budaya di berbagai satuan pendidikan,"ujarnya.

Dengan keberhasilan Suwardi meraih gelar doktor, Program Studi Doktor Pendidikan Agama Islam FITK UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta kembali menegaskan komitmennya dalam menghasilkan penelitian-penelitian yang inovatif, relevan, dan berkontribusi terhadap pengembangan ilmu pengetahuan, khususnya dalam bidang pendidikan Islam yang responsif terhadap dinamika sosial, budaya, dan tantangan pendidikan abad ke-21.