The Relationship between Religion and The State in The Framework of Education (IRE)
International Webinar "The Relationship between Religion and The State in The Framework of Education (IRE)"
Webinar Internasional sesi tiga yang diselenggarakan oleh Program Studi Doktor (S3) Pendidikan Agama Islam (PAI) UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta telah dilaksanakan pada hari Selasa, 2 Juni 2026 dengan tema ”The Relationship between Religion and The State in The Framework of Education (IRE)”. Kegiatan ini diikuti oleh sekitar 200 peserta yang berasal dari berbagai perguruan tinggi dan lembaga pendidikan di Indonesia.
Host Webinar adalah Sdri. Ahya Dita Satiarmia, S.Pd., mahasiswi Program Studi Magister Pendidikan Bahasa Arab UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Dalam sambutannya, Prof. Dr. Zainal Arifin, M.S.I. selakukeynote speakermenyampaikan bahwa webinar ini merupakan wadah bagi mahasiswa doktoral PAI untuk mempresentasikan artikel ilmiah yang menjadi luaran mata kuliah seminar dan publikasi. Tema webinar dipilih bertepatan dengan momentum peringatan Hari Lahir Pancasila dan diarahkan untuk mengkaji relasi agama dan negara dalam konteks PAI. Beliau menegaskan bahwa sistem pemerintahan dalam Islam bersifat washilah (sarana) untuk mewujudkan kemaslahatan manusia, sehingga nilai-nilai Pancasila dapat dipahami sebagai instrumen yang selaras dengan prinsip-prinsip Islam dalam membangun kehidupan berbangsa dan bernegara.
Webinar dilaksanakan dalam dua sesi. Sesi pertama dipandu oleh Hanasto, M.Pd.I. dengan menghadirkan dua narasumber. Narasumber pertama, Prof. Dr. Maksudin, M.Ag., Guru Besar Pendidikan Akhlak FITK UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, memaparkan pentingnya paradigma integratif dalam PAI sebagai respons terhadap tantangan kontemporer, seperti intoleransi, radikalisme digital, dan dikotomi ilmu agama dan ilmu umum. Beliau menegaskan bahwa Pancasila dapat menjadi landasan filosofis yang mengintegrasikan nilai-nilai keagamaan dan kebangsaan melalui pendekatan yang menghubungkan wahyu, akal, dan realitas sosial. Menurutnya, implementasi integrasi tersebut perlu diwujudkan dalam kurikulum, pembelajaran, serta penguatan budaya akademik yang menjunjung moderasi beragama, etika digital, dan karakter kebangsaan.
Narasumber kedua, Didy Fantofik, B.A., M.Pd., mahasiswa Doktor PAI UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, membahas revitalisasi nilai-nilai Pancasila dalam membangun karakter abad ke-21. Ia menyoroti berbagai tantangan generasi muda, seperti krisis identitas, penyebaran hoaks, menurunnya etika bermedia sosial, dan melemahnya rasa kebangsaan. Dalam pemaparannya dijelaskan bahwa nilai-nilai yang terkandung dalam setiap sila Pancasila relevan untuk membentuk karakter generasi masa depan yang religius, toleran, berintegritas, demokratis, dan peduli sosial. Nilai-nilai tersebut perlu diperkuat melalui pendidikan berbasis karakter, integrasi kurikulum, pembelajaran kontekstual, penguatan budaya akademik, serta pemanfaatan teknologi digital secara positif dan bertanggung jawab.
Sesi kedua sekaligus sesi utama dipandu oleh Lutfina Aribah, M.Pd., mahasiswa Program Studi Doktor PAI UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Narasumber pada sesi ini adalah Aji Nurantono, S.Pd.I., B.A., M.Pd., mahasiswa doktoral Universitas Qassim, Arab Saudi. Dalam paparannya, ia menjelaskan bahwa pembangunan kepribadian nasional sangat bergantung pada kepemimpinan pendidikan Islam yang berorientasi pada pembentukan karakter dan tanggung jawab sosial. Kepemimpinan pendidikan Islam dipandang sebagai instrumen penting dalam menanamkan nilai-nilai keimanan, persatuan, keadilan, dan kepedulian sosial. Narasumber menekankan bahwa pemimpin pendidikan harus memiliki sifat amanah, adil, bijaksana, dan mampu menjadi teladan. Selain itu, kepemimpinan bukan semata-mata bakat bawaan, melainkan kompetensi yang dapat dikembangkan melalui pendidikan, pengalaman, dan pelatihan. Dengan menerapkan kepemimpinan yang adaptif dan situasional, lembaga pendidikan dapat membentuk generasi yang unggul secara intelektual sekaligus memiliki karakter kebangsaan yang kuat.
Kegiatan berlangsung dengan antusias dan interaktif melalui sesi diskusi yang melibatkan peserta dari berbagai latar belakang akademik. Secara umum, webinar menghasilkan pemahaman bahwa relasi agama dan negara dalam konteks Pendidikan Agama Islam tidak bersifat kontradiktif, melainkan saling mendukung dalam mewujudkan kemaslahatan, penguatan karakter bangsa, serta pembangunan masyarakat yang moderat, toleran, dan berkeadaban. Kegiatan resmi ditutup pada pukul 11.50 WIB.