Angkat Heutagogi Berbasis Moral Feeling, Fathiyatul Haq Raih Gelar Doktor PAI di UIN Sunan Kalijaga
Promosi Doktor PAI ke-37 di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
Yogyakarta, 26 Januari 2026– Program Studi Doktor Pendidikan Agama Islam (PAI), Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta, kembali menegaskan komitmennya dalam pengembangan keilmuan melalui lahirnya doktor baru. Fathiyatul Haq Mai Al Mawangir, S.Pd.I., M.Pd.I. (NIM: 2030412004) secara resmi meraih gelar Doktor PAI ke-37 setelah mempertahankan disertasinya yang berjudul“Konstruksi Elemen Heutagogi untuk Pendidikan Agama Islam di Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri.”
Ujian Terbuka Promosi Doktor diselenggarakan pada Senin, 26 Januari 2026, pukul 09.00–11.00 WIB, bertempat di Aula Pertemuan Lantai 3 Gedung PPG FITK UIN Sunan Kalijaga, Sambilegi, Maguwoharjo, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Sidang promosi doktor dipimpin oleh Prof. Dr. Sukiman, S.Ag., M.Pd. selaku Ketua Sidang sekaligus Ketua Program Studi S3 PAI, dengan Prof. Dr. Zainal Arifin, M.S.I. sebagai Sekretaris Sidang.
Bertindak sebagai promotor utama adalah Prof. Dr. Sutrisno, M.Ag. (Guru Besar UIN Sunan Kalijaga) dan Prof. Dr. Muhamad Nasir, M.Ag. (Guru Besar UIN Sultan Aji Muhammad Idris Samarinda). Adapun dewan penguji terdiri atas Dr. Ir. Sumarsono, S.T., M.Kom., Dr. Winarti, S.Pd., M.Pd.Si., Jamil Suprihatiningrum, M.Pd.Si., Ph.D., serta Prof. Dr. Sembodo Ardi Widodo, M.Ag.
Dalam disertasinya, Fathiyatul Haq Mai Al Mawangir menyoroti tantangan pendidikan tinggi di tengah dinamika global yang menuntut lulusan memiliki kemandirian belajar, fleksibilitas berpikir, serta kesiapan mental menghadapi perubahan. Menurutnya, pendekatan pembelajaran yang bersifat pasif tidak lagi memadai untuk membekali mahasiswa dengan kompetensi abad ke-21. Oleh karena itu, pendekatanheutagogi—pembelajaran yang berpusat pada kemandirian dan otonomi pembelajar—menjadi alternatif strategis dalam pengembangan Pendidikan Agama Islam (PAI) di perguruan tinggi.
Penelitian ini bertujuan untuk: (1) menganalisis praktik Pendidikan Agama Islam yang diterima mahasiswa, (2) mengkaji praktik PAI oleh dosen dengan pendekatan heutagogi, (3) menganalisis hasil penerapan elemen heutagogi dalam pembelajaran PAI, serta (4) merumuskan konstruksi elemen baru heutagogi yang relevan dengan konteks Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN).
Penelitian dilakukan dengan pendekatan kualitatif melalui metode studi kasus di tiga PTKIN, yaitu UIN Raden Fatah Palembang, UIN Salatiga, dan UIN Sultan Aji Muhammad Idris Samarinda. Partisipan penelitian dipilih secara purposive, meliputi pengelola program studi, dosen, dan mahasiswa PAI. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi, yang kemudian dianalisis menggunakan model interaktif melalui tahapan pengumpulan data, kondensasi data, penyajian data, serta penarikan kesimpulan. Keabsahan data dijaga melalui triangulasi sumber, metode, dan teori.
Hasil penelitian menunjukkan beberapa temuan penting. Pertama, implementasi heutagogi di ketiga lokasi penelitian secara empiris bergerak dari pembelajaran yang terstruktur menuju pembelajaran yang lebih mandiri, ditandai dengan perubahan desain tugas, pola interaksi dosen–mahasiswa, serta mekanisme asesmen. Kedua, praktik heutagogi dalam Pendidikan Agama Islam berlangsung melalui tiga tahap utama, yaitu tahap awal yang bercirikanexperiential learningdengan otonomi mahasiswa, tahap transisional yang ditandai dengan kemandirian belajar, pengelolaan proyek, dan praktikpeer feedback, serta tahap lanjut yang ditandai oleh terbentuknyapsychological safety,self-efficacy, danrelational autonomy.
Ketiga, aktivasi elemen heutagogi oleh dosen terbukti mampu menstimulasi transformasi holistik mahasiswa, tidak hanya pada dimensi kognitif, tetapi juga afektif dan moral. Keempat, penelitian ini menghasilkan temuan konseptual berupa konstruksi elemen baru heutagogi, yaknielemenmoral feeling. Elemen ini berfungsi sebagai mekanisme pengendalian diri yang mengintegrasikan nurani, rasionalitas, dan tindakan, sehingga pembelajaran PAI tidak hanya membentuk kapabilitas akademik, tetapi juga memperkuat integritas moral peserta didik.
Temuan ini sekaligus menegaskan distingsi PTKIN sebagai institusi pendidikan tinggi yang mampu memadukan tradisitarbiyah Islamiyahdengan pendekatan pembelajaran mandiri kontemporer. Disertasi ini diharapkan dapat menjadi rujukan strategis bagi pengembangan kurikulum dan praktik Pendidikan Agama Islam yang lebih relevan, humanis, dan berorientasi pada pembentukan insan berilmu dan berakhlak.
Dalam kesempatan tersebut, Promotor Utama,Prof. Dr. Sutrisno, M.Ag., menyampaikan apresiasinya terhadap kontribusi ilmiah disertasi ini. Menurutnya, penelitian yang dilakukan mampu menghadirkan sintesis yang kuat antara teori pembelajaran kontemporer dan nilai-nilai pendidikan Islam.“Disertasi ini tidak hanya mengadopsi konsep heutagogi secara teoritik, tetapi juga mengontekstualisasikannya dalam tradisi Pendidikan Agama Islam di PTKIN. Temuan elemen moral feeling menjadi kontribusi penting yang memperkaya khazanah pedagogi Islam,”ujarnya.
Senada dengan itu, Co-PromotorProf. Dr. Muhamad Nasir, M.Ag.menilai bahwa disertasi ini memiliki relevansi yang tinggi dengan tantangan pendidikan tinggi keagamaan saat ini. Ia menegaskan bahwa pendekatan heutagogi yang dikembangkan dalam penelitian ini mampu memperkuat karakter kemandirian mahasiswa tanpa melepaskan fondasi nilai-nilai keislaman.“Penelitian ini menunjukkan bahwa pembelajaran mandiri dapat berjalan seiring dengan pembentukan integritas moral, yang menjadi ciri khas PTKIN,”tegasnya.
Sementara itu, salah satu penguji,Prof. Dr. Sembodo Ardi Widodo, M.Ag., menyoroti kekuatan metodologis dan kedalaman analisis dalam disertasi tersebut. Ia menyampaikan bahwa penelitian ini memberikan gambaran empiris yang komprehensif tentang praktik heutagogi di berbagai PTKIN.“Studi ini tidak hanya kuat secara konseptual, tetapi juga kaya secara data lapangan. Hal ini menjadikannya rujukan penting bagi pengembangan kebijakan dan praktik Pendidikan Agama Islam di perguruan tinggi,”ungkapnya