Dr. Faridah Musyrifah, M.Ag. Meneliti Model Pengembangan Pendidikan Tinggi Berbasis Pesantren
Penyerahan Ijazah dan Pemindahan Tali Ikat Toga
Di bulan pertama 2023 ini, Program Studi Doktor Pendidikan Agama Islam (PAI), Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK), Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta kembali meluluskan doktornya. Faridah Musyrifah merupakan doktor keenam yang diluluskan oleh Prodi Doktor PAI dan doktor pertama pada 2023 ini. Disertasi yang berjudul Model Pengembangan Pendidikan Tinggi Berbasis Pesantren: Studi Kasus di Universitas Sains Al-Qur’an (UNSIQ) Jawa Tengah di Wonosobo berhasil dipertahankan dalam Ujian Terbuka (Promosi) yang dilaksanakan di Aula Gedung PPG Lantai 3 Sambilegi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.
Dewan penguji terdiri dari Ketua Sidang, Prof. Dr. Sukiman, M.Pd. yang merupakan Ketua Program Studi Doktor PAI itu sendiri; yang didampingi oleh Sekretaris Sidang Dr. Na’imah, M.Hum., yang merupakan Sekretaris Prodi Magister Pendidikan Islam Anak Usia Dini (PIAUD), FITK, UIN Sunan Kalijaga; dua promotor: Prof. Dr. Sangkot Sirait, M.Ag., dan Dr. Sembodo Ardi Widodo, M.Ag.; para penguji: Dr. Radjasa, M.Si., Prof. Dr. Siswanto Masruri, M.Ag., Dr. Sabarudin, M.Si., dan Prof. Dr. Maragustam, M.A.
Disertasi Farida yang mengkaji Model Pengembangan Pendidikan Tinggi Berbasis Pesantren (Studi Kasus di UNSIQ Jawa Tengah di Wonosobo) didasari beberapa alasan akademik. Pertama, model pendidikan tinggi di pesantren menjadi salah satu lembaga pendidikan yang banyak diminati oleh masyarakat terutama karena output nya dianggap memiliki keistimewaan (sarjana tahfiz). Kedua, pemberlakuan pendidikan integratif sebagai basic keilmuan integrasi di UNSIQ menarik untuk dikaji sebagai sebuah alternatif model pendidikan tinggi berbasis pesantren. Ketiga, penelitian pendidikan tinggi pesantren masih jarang, apalagi berkenaan dengan dicantumkannya kata ‘Sains’ dalam penamaan universitas.
Temuan penting disertasi ini adalah: (1) fakta bahwa telah terjadi kesinambungan dan perubahan yang signifikan dalam sejarah berdirinya UNSIQ dan pengembangannya. Kesinambungan keilmuan di UNSIQ ditunjukkan dengan tetap menjaga dan setia dalam pengajaran Al-Qur’an (tahfiz) sebagai ciri khas pendidikan tinggi berbasis pesantren. Sedangkan perubahan terjadi dalam aspek kepemimpinan/aktor intelektual dalam pengembangan UNSIQ dan manajemen pengembangan kelembagaan di UNSIQ. (2) Model keilmuan yang dibangun di UNSIQ adalah keilmuan integratif yang menyatukan dua entitas keilmuan antara pendidikan tinggi dan pesantren (PTP). Pengembangan pendidikan integratif dilakukan dengan menjadikan Al-Qur’an sebagai ruh dalam setiap mata kuliah di UNSIQ. Hal ini dapat dilihat dengan penggunaan buku daras “Al-Qur’an dan Sains Modern “yang berlaku di semua fakultas sebagai sebuah upaya menuju integrasi ilmu dengan konsep “Saintifikasi Teologi dan Teologisasi Saintifik”. (3) Karakteristik keilmuan integratif di UNSIQ terwujud dalam kurikulum program studi, kurikulum unggulan universitas dan kurikulum muatan lokal yang terintegrasi dalam pengajaran Al-Qur’an.
Dalam sambutannya, Prof. Dr. Sangkot Sirait, M.Ag., selaku Promotor I memberikan pesan bahwa penyelesaian disertasi ini bukanlah penyelesaian karya-karya akademik melainkan justru merupakan penanda bagi awal lahirnya karya-karya akademik yang lebih besar. Promovenda memiliki potensi untuk menjadi pakar dalam bidang pesantren dalam kaitan dengan pendidikan tinggi. Karena itu, doktor baru ini perlu secara konsisten mengembangkan pengetahuan dalam kajian-kajian akademik mengenai topik ini.