Diskusi “MENDIDIK PENGENDALIAN DIRI DAN TOLERANSI DARI RUMAH”

Foto: Ziadatul Husnah, M.Pd. sebagai Pembicara
Pandemi Covid-19 tidak menjadi penghalang bagi Ziadatul Husnah, mahasiswa S3 Prodi PAI FITK, dalam berbagi banyak hal terutama dalam bidang pendidikan. Pada tanggal 6 Oktober 2021 Zia menjadi salah satu pembicara dalam forum NGOPII YO (Ngobrol Pendidikan Interreligius dan Indonesia dari Yogyakarta). Kegiatan NGOPII YO merupakan kegiatan rutin setiap dua mingguan pada Rabo malam yang diinisiasi oleh beberapa lembaga yang saling bersinergi, yaitu Rumah Kearifan (House of Wisdom), Perkumpulan Pengembang Pendidikan Interreligius (PaPPIRus), Sanggar Anak Alam Yogyakarta (SALAM), Jamaah Ahmadiyah Indonesia (JAI), dan Prodi PAI Universitas Islam Indonesia (UII).
Pada forum NGOPII YO ke-5 ada dua orang pembicara yang diminta menjadi pemantik untuk peserta yang hamper semua adalah praktisi dan pakar yang mempunyai perhatian di dunia pendidikan seluruh Indonesia. Selain Zia, pembicara lainnya adalah Toto Tejamano, seorang penyuluh agama Buddha Kota Yogyakarta. Kedua narasumber diminta untuk sharing terkait dengan pengalaman dalam mendidik anak-anak di rumah terutama tentang pengendalian diri dan toleransi. Acara dipandu oleh Listia, M.A., Koordinator PaPPIRus.
Pada kesempatan ini Zia menegaskan bahwa dasar pendidikan tidak hanya dilakukan di lingkungan sekolah, tetapi juga di rumah, bahkan inti dari proses pendidikan adalah di rumah. Menurutnya, rumah merupakan laboratorium otentik bagi anak untuk mengekspresikan dan mengeksplorasi nilai-nilai positif yang harus sejak usia dini. Karena itu, orang tua seharusnya lebih terbuka dalam membiasakan dan menghidupkan nilai-nilai positif tersebut. Alasan yang tepat untuk ini adalah orang tua pada dasarnya being a role model, sebab ada pengaruh antara yang dilihat sehari-hari dengan yang dilaksanakan anak-anak. Ini yang oleh Zia disebut dengan the power of children see, children do.
Apa yang disampaikan oleh Zia diperkuat oleh Toto sebagai pembicara kedua. Dia menambahkan dan menyempurnakan sharing tema kali ini tentang pentingnya membiasakan nilai pengendalian diri dan toleransi sejak dini. Hal ini sangat dipengaruhi oleh kematangan pasangan calon suami istri yang melangsungkan pernikahan sebab kematangan psikologi dan spiritualitas sangat mempengaruhi pola pembiasaan nilai kepada anak. Menurutnya, kematangan tersebut diperlukan sebab mereka akan menghadapi persoalan dan tantangan yang selalu baru dan berubah, datang silih berganti.
Di bagian akhir, ketika menyampaikan closing statement Zia menggarisbawahi beberapa poin yang telah menjadi bahan diskusi bahwa kunci habituasi nilai pengendalian diri dan toleransi terletak pada transformasi diri (self-transformation) yang dilakukan oleh orang tua. Menurutnya, orang tua tidak cukup hanya understanding saja namun juga harus menyadari (awareness) dan bertindak (action). Memulai dari sendiri sebagai living model merupakan kunci dari pembiasaan nilai. Ini yang disebut dengan the power of giving lies in what we have.