Edi Martani membahas Model Kepemimpinan Berbasis Budaya dalam Penguatan Mutu Pendidikan Agama Islam di Madrasah

Yogyakarta — Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta menyelenggarakan ujian terbuka disertasi Program Doktor Pendidikan Agama Islam (PAI) ke-47atas nama Edi Martani, S.Pd.I., M.Pd.I. pada Kamis, 13 Agustus 2026 bertempat di Aula Pertemuan Lantai 3 Gedung PPG FITK UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Dalam ujian terbuka tersebut, promovendus mempertahankan disertasi berjudul:“Kepemimpinan Berbasis Budaya dalam Penguatan Mutu Pendidikan Agama Islam (Studi Multisitus di MIS Al Islam Tonoboyo dan MIS Ma’arif Grabag 01 Kabupaten Magelang).”

Ujian terbuka dipimpin oleh Prof. Dr. Sukiman, S.Ag., M.Pd. selaku Ketua Sidang. Jalannya persidangan didukung oleh Dr. Dalitawati Syamsiah, M.Ag. sebagai Sekretaris Sidang. Tim promotor yang mendampingi penelitian disertasi ini terdiri atas Prof. Dr. Siswanto Masruri, M.A. selaku Promotor I dan Prof. Dr. Subiyantoro, M.Ag. selaku Promotor II. Selain itu, tim penguji dalam ujian terbuka ini melibatkan Dr. Muh. Hanif, S.Ag., M.Ag., M.A., Prof. Dr. Imam Machali, M.Pd., Siti Nur Hidayah, M.A., Ph.D., serta Dr. Hafidz Aziz, M.Pd.I. Dalam ujian tersebut, para penguji memberikan berbagai pendalaman akademik terhadap konstruksi teori, metodologi penelitian, analisis temuan, serta kontribusi penelitian bagi pengembangan manajemen pendidikan Islam.

Disertasi yang dipertahankan oleh Edi Martani mengangkat isu penting mengenai bagaimana kepemimpinan kepala madrasah berbasis budaya dapat menjadi kekuatan strategis dalam meningkatkan mutu Pendidikan Agama Islam (PAI). Penelitian ini berangkat dari realitas bahwa berbagai program dan kegiatan religius di madrasah belum selalu berkembang menjadi budaya yang memiliki makna dan keberlanjutan. Aktivitas keagamaan dapat berhenti sebagai rutinitas apabila tidak didukung oleh kepemimpinan yang mampu membangun keteladanan, menginternalisasi nilai, mengembangkan kapasitas guru, memperkuat struktur kelembagaan, serta melibatkan seluruh warga madrasah.

Dalam pemaparannya, promovendus menjelaskan bahwa kajian kepemimpinan pendidikan selama ini masih sering menempatkan budaya sebagai hasil atau lingkungan dari kepemimpinan. Penelitian ini menawarkan perspektif bahwa budaya dapat menjadi medium aktif yang menghubungkan nilai kepemimpinan dengan peningkatan mutu Pendidikan Agama Islam. Penelitian ini bertujuan menganalisis tiga aspek utama, yaitu konfigurasi kepemimpinan berbasis budaya, mekanisme internalisasi dan aktualisasi nilai religius menjadi budaya madrasah, serta strategi dan kontribusinya terhadap penguatan mutu PAI. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus multisitus pada dua madrasah, yaitu MIS Al Islam Tonoboyo dan MIS Ma’arif Grabag 01 Kabupaten Magelang. Data penelitian diperoleh melalui wawancara terhadap 14 informan, observasi, dan dokumentasi. Analisis dilakukan melalui analisis tematik reflektif serta analisis lintas situs untuk menghasilkan pemahaman yang lebih mendalam mengenai praktik kepemimpinan berbasis budaya.

Hasil penelitian menunjukkan tiga temuan utama. Pertama, konfigurasi kepemimpinan berbasis budaya terbentuk melalui keterpaduan unsur religiusitas, keteladanan, budaya madrasah, partisipasi warga, pembinaan profesional, dan kemampuan adaptasi. Penelitian menemukan bahwa MIS Al Islam Tonoboyo menunjukkan karakter kepemimpinan kultural-relasional, sedangkan MIS Ma’arif Grabag 01 menunjukkan karakter struktural-inovatif.

Kedua, nilai religius dalam madrasah tidak hanya diwujudkan melalui kegiatan formal, tetapi dikembangkan melalui proses internalisasi dan pelembagaan budaya. Proses tersebut berlangsung melalui perpaduan jalur kultural dan struktural. Jalur kultural diwujudkan melalui keteladanan kepala madrasah, komunikasi nilai, pembiasaan, tradisi religius, hubungan sosial, musyawarah, serta pemaknaan bersama. Sementara jalur struktural dilakukan melalui visi madrasah, kebijakan, program, pembagian tugas, pengembangan profesional guru, supervisi, monitoring, evaluasi, dan tindak lanjut.

Ketiga, strategi penguatan mutu PAI dilakukan melalui pengembangan budaya religius, pemberdayaan guru, integrasi pembelajaran dan pembiasaan, keterlibatan keluarga serta masyarakat, pemanfaatan teknologi, dan evaluasi berkelanjutan. Strategi tersebut memberikan kontribusi terhadap penguatan keimanan dan akidah peserta didik, peningkatan literasi keagamaan, pembentukan sikap religius dan akhlak mulia, serta kemampuan peserta didik dalam mengamalkan ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari.

Melalui sintesis lintas situs, penelitian ini menghasilkan formulasi teoretik mengenai kepala madrasah sebagai “pengorkestra budaya” (cultural orchestrator). Konsep ini menggambarkan kepala madrasah sebagai pemimpin yang mampu membaca, menafsirkan, menyelaraskan, menggerakkan, dan melembagakan nilai, manusia, struktur, budaya, pembelajaran, serta sumber daya secara kontekstual. Konsep tersebut menegaskan bahwa kepemimpinan berbasis budaya bukan sekadar satu gaya kepemimpinan tertentu, tetapi merupakan proses orkestrasi yang mengintegrasikan berbagai dimensi kepemimpinan untuk memperkuat iman, ilmu, akhlak, dan amal peserta didik. Ujian terbuka disertasi ini menjadi bagian penting dalam pengembangan kajian Pendidikan Agama Islam, khususnya dalam memperkuat pemahaman mengenai hubungan antara kepemimpinan, budaya madrasah, dan peningkatan mutu pendidikan Islam.

Dengan selesainya ujian terbuka ini, hasil penelitian Edi Martani diharapkan memberikan kontribusi bagi pengembangan teori kepemimpinan pendidikan Islam sekaligus menjadi rujukan praktis bagi para pengelola madrasah dalam membangun budaya pendidikan yang religius, adaptif, dan berkelanjutan.