Kuliah Tamu dan Launching Pusat Pengembangan Ilmu PAI Integrasi-Interkoneksi di UIN Sunan Kalijaga
Foto Bersama Dekanat, Pengelola Prodi, Narasumber dan Mahasiswa
Yogyakarta, 14 November 2024 – Program Studi (Prodi) Doktor Pendidikan Agama Islam (PAI) Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta menyelenggarakan kegiatan Kuliah Tamu sekaligus Launching Pusat Pengembangan Ilmu PAI Integrasi-Interkoneksi. Acara yang diadakan pada Kamis, 14 November 2024, ini diikuti oleh dosen dan mahasiswa semester ganjil tahun akademik 2024/2025 angkatan VIII, IX, X, XI, dan XII dari Prodi Doktor PAI.
Kegiatan dimulai dengan pembacaan surat Al-Fatihah, yang kemudian dilanjutkan dengan sambutan dari Ketua Prodi Doktor PAI, Prof. Dr. H. Sukiman, S.Ag., M.Pd. Dalam sambutannya, Prof. Sukiman mengungkapkan beberapa tantangan yang dihadapi dalam pengembangan ilmu Pendidikan Agama Islam, salah satunya terkait dengan dikotomi antara ilmu agama dan ilmu umum. Menurutnya, masih banyak penelitian mahasiswa yang belum secara maksimal mengimplementasikan paradigma Integrasi-Interkoneksi dalam karya ilmiahnya.
Lebih lanjut, Prof. Sukiman menekankan bahwa penting untuk terus meningkatkan kualitas penelitian yang mengusung paradigma Integrasi-Interkoneksi, yang menjadi identitas khas UIN Sunan Kalijaga. Paradigma ini, katanya, tidak hanya menjadi ciri khas bagi UIN Sunan Kalijaga, tetapi juga sebagai upaya untuk menunjukkan kepada masyarakat Indonesia bahwa UIN berkomitmen dalam mengintegrasikan nilai-nilai agama dan ilmu pengetahuan dalam pendidikan tinggi. Acara tersebut juga dihadiri oleh sejumlah dosen dan mahasiswa yang antusias mengikuti kuliah tamu dan berharap kegiatan ini dapat meningkatkan kualitas penelitian serta memberikan kontribusi besar terhadap pengembangan Pendidikan Agama Islam di Indonesia.
Sambutan kedua sekaligus melaunching Pusat Studi Pengembangan Ilmu PAI inetgrasi-interoneksi oleh Dekan FITK, Prof. Dr. Sigit Purnama, S.Pd.I., M.Pd. Dalam sambutannya, Prof. Sigit mengapresiasi inisiasi pendirian Pusat Studi Pengembangan PAI Integrasi-Interkoneksi yang dinilai sangat penting untuk kemajuan dunia Pendidikan Agama Islam di Indonesia. Beliau menekankan bahwa pengembangan ilmu PAI dengan pendekatan Integrasi-Interkoneksi akan membantu menciptakan pemahaman yang lebih holistik antara prinsip teori dan praktik dalam pendidikan, sehingga memberikan dampak positif bagi perkembangan ilmu keagamaan dan ilmu pengetahuan secara bersama.
Lebih lanjut, Prof. Sigit juga menyampaikan bahwa kehadiran pusat pengembangan ilmu ini sangat penting agar ke depan Pendidikan Agama Islam menjadi lebih berwarna dan mampu menjawab tantangan zaman yang semakin kompleks. "Pusat pengembangan ini diharapkan dapat menjadi ruang untuk pengembangan ilmu yang lebih aplikatif dan interkonektif, sehingga lebih relevan dengan kebutuhan masyarakat dan dunia akademik," ujarnya.
Sebagai bentuk komitmen dan dukungan terhadap Prodi Doktor PAI, Prof. Sigit juga menjanjikan pihak dekanat FITK akan memberikan dukungan penuh dalam mengembangkan Pusat Studi Pengembangan PAI Integrasi-Interkoneksi. "Kami akan terus mendukung penuh agar pusat ini dapat berkembang dengan baik dan menjadi pusat rujukan dalam kajian PAI berbasis integrasi dan interkoneksi," tambahnya.
Acara kemudian dilanjutkan dengan peluncuran resmi Pusat Pengembangan Ilmu PAI Integrasi-Interkoneksi, yang ditandai dengan pembacaan surat Al-Fatihah bersama, sebagai simbol kesungguhan dan harapan bagi kemajuan pusat studi ini. Kegiatan tersebut diakhiri dengan sesi foto bersama, yang dihadiri oleh Dekan FITK beserta jajaran Wakil Dekan, antara lain Dr. Andi Prastowo, S.Pd.I., M.Pd.I selaku Wakil Dekan Bidang Akademik, Dr. Winarti, S.Pd., M.Pd.Si selaku Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan dan Kerjasama, serta Dr. Ibrahim, S.Pd., M.Pd selaku Wakil Dekan Bidang ADUM, Perencanaan, dan Keuangan.
Sesi selanjutnya pemaparan oleh dua narasumber. Nara sumber pertama, Prof. Dr. Maksudin, M.Ag, yang membahas topik "Paradigma Integrasi-Interkoneksi dan Implementasinya dalam Riset Disertasi Mahasiswa Prodi Doktor PAI". Dalam sesi tersebut, Prof. Maksudin mengawali pemaparannya dengan sebuah pertanyaan pemantik, "Bisakah manusia mengubah dan membentuk mindset serta mindmap dari dikotomi agama dan ilmu pengetahuan menjadi mindset integrasi agama dan ilmu pengetahuan nondikotomik?"
Menurut Prof. Maksudin, pertanyaan tersebut dapat dijawab dengan dua langkah utama. Pertama, perubahan mindset integratif agama dan ilmu pengetahuan harus dimulai sejak usia dini. Kedua, materi yang digunakan untuk mengubah dan membentuk mindset ini dapat berupa teks (Al-Quran dan Hadis) serta nonteks (sunatullah atau hukum alam), yang semuanya harus sejalan dengan tujuan pendidikan nasional, yaitu membentuk manusia yang beriman dan bertakwa. Beliau juga menjelaskan tentang bagaimana implementasi paradigma Integrasi-Interkoneksi dapat diaplikasikan dalam riset disertasi mahasiswa, yang menjadi topik utama dalam kuliah tamu ini.
Sesi selanjutnya diisi oleh narasumber kedua, Dr. H. Radjasa, M.Si, yang membahas topik "Implementasi Paradigma Integrasi-Interkoneksi dalam Rancangan Penelitian Pendidikan Agama Islam". Dr. Radjasa menyampaikan bahwa dikotomi ilmu pengetahuan yang berlangsung selama berabad-abad telah menyebabkan umat Islam terpuruk. Meskipun demikian, beliau mengidentifikasi empat pendekatan yang telah dicoba untuk mengatasi masalah ini. Pertama, Islamisasi Ilmu oleh Ismail Rozy Al-Faruqi, meskipun konsep ini tidak berkembang karena dianggap terlalu ideologis. Kedua, Pengilmuan Islam oleh Kuntowijoyo, yang berusaha menjadikan ilmu pengetahuan lebih objektif, namun tidak berkembang karena kurangnya dukungan institusional. Ketiga, Integration of Knowledge yang dipelopori oleh lembaga-lembaga besar seperti IIIT di New York dan IIUM, yang telah aktif dalam penyelenggaraan seminar, pelatihan, dan penelitian. Keempat, Integrasi-Interkoneksi yang dicetuskan oleh Prof. M. Amin Abdullah dengan tiga domain analisis, yaitu nash agama, teori, dan kritik. Dr. Radjasa juga menyarankan agar Pusat Studi Pengembangan PAI Integrasi-Interkoneksi UIN Sunan Kalijaga menjalin kerjasama dengan IIIT dan IIUM untuk memperkuat pengembangan ilmu PAI berbasis integrasi dan interkoneksi.
Setelah kedua narasumber menyampaikan pemaparan, sesi dilanjutkan dengan diskusi yang dipandu oleh moderator, Tri Ermayani, M.Ag. Dalam sesi diskusi ini, empat peserta aktif mengajukan pertanyaan kepada narasumber. Prof. Dr. Imam Machali, M.Pd, dosen UIN Sunan Kalijaga sekaligus Direktur Pusat Studi Pendidikan Islam Asia Tenggara, menyampaikan apresiasinya atas diluncurkannya Pusat Studi Pengembangan PAI Integrasi-Interkoneksi. Beliau juga mengajak mahasiswa untuk meramaikan kampus Magister dan Doktor guna memperbarui dan meningkatkan pengetahuan. Selain itu, beliau bertanya apakah paradigma Integrasi-Interkoneksi bisa diterapkan dalam penelitian kuantitatif, mengingat selama ini paradigma tersebut lebih banyak diaplikasikan dalam penelitian kualitatif.
Pertanyaan lainnya disampaikan oleh Akhmad Zulfikhar Habibullah, mahasiswa S3 PAI angkatan IX, yang menanyakan tentang batasan sebuah teks dapat dianggap sebagai teori. Suwardi Ahmad Ubaidillah, mahasiswa angkatan IX, bertanya tentang penelitian yang dilakukannya yang berjudul "Wayang Kulit sebagai Pendidikan Akhlak". Sementara itu, Dian Febrianingsih, mahasiswa angkatan XII, menanyakan hubungan antara Pendidikan Agama Islam (PAI) dan ekologi. Semua pertanyaan dijawab dengan jelas dan mendalam oleh kedua narasumber.
Sesi diskusi ditutup oleh moderator dengan kesimpulan penting, bahwa meskipun teori sangat penting untuk dipelajari, yang lebih utama adalah tindakan nyata untuk mengkonseptualisasikan pengalaman-pengalaman kita dalam PAI. "Teori yang kita pelajari sangat penting, tetapi yang paling penting adalah action, yaitu bagaimana kita segera mengkonsepkan pengalaman-pengalaman kita dalam pendidikan agama Islam," kata Tri Ermayani menutup sesi diskusi.
Kegiatan kuliah tamu ini diakhiri dengan harapan bahwa paradigma Integrasi-Interkoneksi dapat terus berkembang, baik dalam ranah teori maupun praktik, untuk memperkaya riset dan pengembangan Pendidikan Agama Islam di Indonesia.