“Strengthening Holistic, Islamic Environmentally-Oriented Islamic Education as a Reflection of National Education Day.

Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI) S3 UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta telah menyelenggarakan "International Webinar" pada Sabtu, 2 Mei 2026, secara daring melalui platform Zoom. Kegiatan ini mengusung tema “Strengthening Holistic, Islamic Environmentally-Oriented Islamic Education as a Reflection of National Education Day.” Webinar dimulai pada pukul 08.30 WIB dan berakhir pada pukul 11.30 WIB. Acara dibuka oleh pembawa acara, Sdri. Shafiyyah Wahiddin, S.Pd. yang memandu jalannya kegiatan dengan tertib dan komunikatif.

Sebagai keynote speaker, Prof. Dr. Sigit Purnama, M.Pd. (Dekan FITK UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta) menyampaikan bahwa pendidikan merupakan cerminan komitmen dalam merespons isu-isu global kontemporer. Beliau menegaskan,

Pendidikan di era modern harus mampu menghadirkan pemahaman holistik yang berakar pada nilai-nilai Islam, khususnya dalam merespons isu lingkungan demi keberlanjutan masa depan. Selain itu, beliau mengajak peserta untuk mendefinisikan kembali kontribusi pendidikan Islam dalam membangun kematangan spiritual sekaligus stabilitas lingkungan.

Sesi pertama dimoderatori oleh Ibu Siti Nur Hidayah, M.A., Ph.D., dengan narasumber Prof. Mohamad Abdalla, Ph.D. (Director of the Center for Islamic Thought & Education Adelaide University Australia).Dalam pemaparannya, beliau mengkritisi reduksi makna istilah tarbiyah dalam terjemahan bahasa Inggris serta istilah lain seperti ihsan yang kerap dipengaruhi oleh perbedaan worldview. Beliau menekankan bahwa,

Paradigma tarbiyah merupakan inti dari ta’lim, ta’dib, dan tazkiyah, serta menyarankan agar akademisi tetap menggunakan istilah asli berbahasa Arab dalam penulisan ilmiah.

Sesi berikutnya dimoderatori oleh Ibu Zeni Murtafiati Mizani, M.Pd., dengan menghadirkan tiga narasumber. Narasumber kedua, Prof. Dr. Sutrisno, M.Ag., menyampaikan bahwa penguatan pendidikan Islam harus bergerak menuju paradigma yang holistik, integratif, dan berorientasi ekologis. Pendidikan nasional tidak hanya membentuk insan beriman dan berakhlak, tetapi juga memiliki kesadaran ekologis sebagai wujud tanggung jawab sebagai khalifah fil ardh. Beliau juga menawarkan konsep Khalifah Green Pedagogy melalui tahapan membaca (iqro’), memaknai (tadabbur), mendalami (tafaqquh), mengamalkan (tathbiq), dan merefleksikan (tafakkur).

Narasumber ketiga, Bapak Hanasto, M.Pd., mengajak peserta untuk mereimajinasikan pendidikan Islam secara holistik dengan mengintegrasikan nilai-nilai keislaman, kemanusiaan, dan kesadaran ekologis. Ia menekankan bahwa pendidikan bukan sekadar transfer pengetahuan, tetapi proses menuntun potensi fitrah manusia secara menyeluruh, mencakup aspek spiritual, intelektual, sosial, dan ekologis. Pemikiran ini diperkuat dengan perspektif Ki Hajar Dewantara tentang pendidikan sebagai proses memanusiakan manusia.

Sementara itu, narasumber keempat, Bapak Anwar Dhobith, M.Pd., mengangkat topik “The Urgency of Religious Education as Solution to Overcoming the Environmental Crisis.” Ia menjelaskan bahwa krisis lingkungan bukan hanya persoalan ekologis, tetapi juga persoalan pendidikan dan etika. Pendidikan Agama Islam memiliki landasan teologis kuat melalui prinsip tauhid, fitrah, mizan, dan khalifah. Integrasi prinsip tersebut dengan pendekatan pendidikan progresif memungkinkan pembelajaran yang berbasis pengalaman, berpusat pada peserta didik, serta berorientasi pada pemecahan masalah. Implementasinya dapat dilakukan melalui pembelajaran PAI, integrasi lintas kurikulum, dan pembentukan budaya sekolah yang mendukung. Pendidikan yang berorientasi lingkungan diharapkan mampu menumbuhkan literasi, akhlak, dan tanggung jawab ekologis, sehingga mendorong transformasi dari pengetahuan menuju amal saleh.

Webinar ini diikuti dengan antusiasme yang sangat tinggi, dengan jumlah peserta mencapai 150 orang. Para peserta aktif berpartisipasi dalam sesi diskusi dan tanya jawab, sehingga kegiatan berlangsung dinamis dan interaktif. Dengan terselenggaranya kegiatan ini, diharapkan dapat memberikan kontribusi nyata dalam pengembangan pendidikan Islam yang holistik, berkelanjutan, dan responsif terhadap tantangan lingkungan global.